CBP IPNU Kajoran - Corps
Brigade Pembangunan (CBP) adalah lembaga semi otonom dibawah naungan
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau sering disebut IPNU. CBP lahir
dilatar belakangi adanya persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia
atau istilah populernya dikenal dengan “Ganyang Malaysia”, persengketaan
itu merebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak).
Kondisi
riil yang terjadi pada saat itu untuk lebih jelas konteknya yaitu
politik luar negeri, terjadi pertentangan antara gagasan Presiden
Soekarno yang anti Imperialisme dengan pihak barat yang berupaya
menancapkan kukunya diwilayah Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno
mengintruksikan kepada elemen bangsa untuk segera membentuk Sukarelawan
Perang dan siap menggayang Malaysia.
Intruksi Presiden
tersebut secara lansung membuat seluruh elemen bangsa bersiap sedia
untuk melawan Imperalisme yang akan kembali menancapkan kukunya
diwilayah Asia Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu selaku Pimpinan
Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari elemen
bangsa merasa terpanggil untuk berjuang bersama melawan iperalisme dari
bangsa barat, yang terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyyin yang
kemudian dinamakan Sukarelawan Pelajar pada tahun 1993.
Deklarasi
dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Yogyakarta yang pada saat
itu merupakan lokasi dari kantor pusat PP IPNU, dan dibarengi dengan
parade militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan wujud
dari kesiapan RI untuk Menggayang Malaysia.
Sejak saat
itulah kemudian Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh Asnawi Latif
tersebut berjuang demi memperjuangkan Negara dan Bangsa untuk keutuhan
NKRI. Sukarelawan ini yang merupakan Embrio atau cikal bakal bagi
berdirinya Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul
Ulama. Yang kemudian ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan
pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964 dengan nama Corps Brigade Pembangunan
(CBP). Yang kemudian dikenal dengan “doktrin Pekalongan”.
Pada
moment tersebut Asnawi Latief selaku ketua umum PP IPNU menunjuk Rekan
Harun Rosyidi untuk menjadi Komandan Teknis CBP. Pasca ditunjuk sebagai
komandan teknis CBP, rekan Harun Rosyidi mengumpulkan kader-kader inti
IPNU yang berpotensi untuk selanjutnya dididik dan dilatih kemiliteran
serta keamanan guna mengantisipasi gerakan yang membahayakan keutuhan
negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) baik dari dalam maupun luar.
Kondisi ini ditempuh karena stabilitas politik dan kemanan yang tidak
menentu pada saat itu.