Thursday, January 7, 2016

SEJARAH IPNU PERIODE PERINTIS

Standard

Munculnya organisasi IPNU bermula dari adanya jam’iyah yang bersifat lokal atau kedaerahan yang berupa kumpulan pelajar, sekolah dan pesantren, yang semula dikelola oleh para Ulama. Contohnya jam’iyah Diba’iyah.


Di Surabaya didirikan TSAMROTUL MUSTAFIDIN (1936). Selanjutnya Persatuan Santri Nahdlatul Ulama atau PERSANU (1939). Di Malang (1941) lahir PERSATUAN MURID NU. Dan pada saat itu banyak para pelajar yang ikut pergerakan melawan penjajah. Pada tahun 1945terbentuk IMNU atau Ikatan  Murid Nahdlatul Ulama. Di Madura (1945) berdiri IJTIMAUTH TOLABIAH dan SYUBBANUL MUSLIM, kesemuanya itu juga ikut berjuang melawan penjajah dengan gigih. Di Semarang (1950) berdiri Ikatan Mubaligh Nahdlatul Ulama dengan anggota yang masih remaja. Sedangkan 1953 di Kediri berdiri (PERPENU) Persatuan Pelajar NU. Pada tahun yang sama di Bangil berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPENU). Pada tahun 1954 di Medan berdiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Dari sekian banyak nama yang mendekati adalah IPNU yang lahir di Medan pada tahun 1954.

JUKLAK DIKLATAMA CBP

Standard
PETUNJUK PELAKSANAAN OPERASI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERTAMA
(DIKLATAMA) CBP HASIL RAKORNAS PONTIANAK
29 - 31 JULI 2010

  1.  Pengertian
     Pendidikan dan Pelatihan Pertama (DIKLATAMA) adalah pendidikan dan latihan yang memiliki sasaran untuk memperkenalkan IPNU secara umum dan CBP pada khususnya pada anggota baru CBP. Diklatama sekaligus membangun komitmen dan watak kader dalam kebersamaan membangun bangsa.

  2.  Tujuan
    • Membentuk watak dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat.
    • Membangun watak dengan mengembangkan nilai - nilai pengabdian pada kegiatan sosial kemanusiaan.
    • Menambah wacana tentang wawasan kebangsaan.
    • Memahami ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
    • Memahami eksistensi IPNU.
    • Memahami CBP
    • Memiliki rasa kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi.
  3.  Peserta
    • Anggota IPNU.
    • Usia 15 - 25 tahun.
    • Patuh dan taat kepada organisasi IPNU dan CBP.
  4.  Pelaksana
     Diklatama dilaksanakan oleh Dewan Koordinasi Cabang atau Dewan Koordinasi Anak Cabang dan diikuti maksimal 40 peserta.
  5.  Materi
    • Materi Ideologis
      Aswaja, Ke-NU-an, Ke-IPNU-an, Ke-CBP-an
    • Materi Wajib
      Peraturan baris-berbaris dan tata laksana upacara, latihan dasar bela diri, manajemen perjalanan, medical first responder basic, search and rescue (SAR), wawasan kebangsaan dan bela negara, pelestarian alam dan lingkungan hidup, komunikasi dan kerjasama tim, sosiologi pedesaan.
    • Materi Teknis Lapangan Basic ropes (dasar tali temali), prusicking dan rappelling, navigasi darat, survival

Saturday, January 2, 2016

CBP IPNU Magelang 2010

Standard

CBP IPNU Kajoran - 2010 adalah tahun yang berharga bagi sejarah DKC CBP Magelang. Waktu itu bersamaan dengan bencana alam Erupsi Gunung Merapi. PC IPNU Kabupaten Magelang yang pada saat itu dipimpin oleh Rekan Rian Jhon El Faza secara administrasi sebetulnya belum mempunyai pasukan inti bernama Corps Brigade Pembangunan.

Singkat cerita, pada saat erupsi gunung Merapi PC IPNU Kabupaten Magelang mengirimkan relawan tanggap bencana, disitulah PC IPNU bertemu dengan relawan dari berbagai penjuru. Ternyata waktu itu juga ada pasukan relawan dari salah satu kelompok pelajar Kabupaten Magelang. Pasukan ini tepatnya dari Saka Bhayangkara Polsek Kajoran. Setelah bertemu dan berkomunikasi ternyata pasukan relawan tersebut masih dari pelajar Nahdlatul Ulama. 

Potensi kader inti pelajar ini kemudian dilanjutkan dengan kiprah CBP IPNU Magelang dalam pengamanan dan teknis Konfercab PC IPNU Magelang pada Desember 2010. (MA25)

SEJARAH CBP IPNU

Standard

CBP IPNU Kajoran - Corps Brigade Pembangunan (CBP) adalah lembaga semi otonom dibawah naungan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau sering disebut IPNU. CBP lahir dilatar belakangi adanya persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan “Ganyang Malaysia”, persengketaan itu merebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak).

Kondisi riil yang terjadi pada saat itu untuk lebih jelas konteknya yaitu politik luar negeri, terjadi pertentangan antara gagasan Presiden Soekarno yang anti Imperialisme dengan pihak barat yang berupaya menancapkan kukunya diwilayah Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno mengintruksikan kepada elemen bangsa untuk segera membentuk Sukarelawan Perang dan siap menggayang Malaysia.

Intruksi Presiden tersebut secara lansung membuat seluruh elemen bangsa bersiap sedia untuk melawan Imperalisme yang akan kembali menancapkan kukunya diwilayah Asia Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari elemen bangsa merasa terpanggil untuk berjuang bersama melawan iperalisme dari bangsa barat, yang terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyyin yang kemudian dinamakan Sukarelawan Pelajar pada tahun 1993.

Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Yogyakarta yang pada saat itu merupakan lokasi dari kantor pusat PP IPNU, dan dibarengi dengan parade militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan wujud dari kesiapan RI untuk Menggayang Malaysia.

Sejak saat itulah kemudian Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh Asnawi Latif tersebut berjuang demi memperjuangkan Negara dan Bangsa untuk keutuhan NKRI. Sukarelawan ini yang merupakan Embrio atau cikal bakal bagi berdirinya Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Yang kemudian ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964 dengan nama Corps Brigade Pembangunan (CBP). Yang kemudian dikenal dengan “doktrin Pekalongan”.

Pada moment tersebut Asnawi Latief selaku ketua umum PP IPNU menunjuk Rekan Harun Rosyidi untuk menjadi Komandan Teknis CBP. Pasca ditunjuk sebagai komandan teknis CBP, rekan Harun Rosyidi mengumpulkan kader-kader inti IPNU yang berpotensi untuk selanjutnya dididik dan dilatih kemiliteran serta keamanan guna mengantisipasi gerakan yang membahayakan keutuhan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) baik dari dalam maupun luar. Kondisi ini ditempuh karena stabilitas politik dan kemanan yang tidak menentu pada saat itu.